Demi sebuah VALENTINE

Donni tak pernah tahu bahwa selama ini Zoya begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.

“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Donni, setiap kali ia mendapatkan jalan buntu. Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah ponsel.“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,” pikir Donni lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa uang ratusan ribu. “Tapi kalo ketahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin dari sekolah. Dan malunya itu!”. Donni tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol, tapi dosa besar. donni cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal. “Don, elo liburan mau ke mana?” tanya Zoya, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Donni masih terpekur di bangkunya. “Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zoy. Elo sendiri?” Donni balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zoya tinggal satu blok dengan Donni.
“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Bandung.”
“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”. “Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya kamar sendiri, jauh dari usilnya si Bombom, adik gue itu. Tapi jadi repot selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi….” Donni cukup kenal dengan keluarga Zoya. Mereka keluarga paling kaya di Blok B. Sebersit pikiran muncul di benak Donni.
“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zoy?”
“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang dari Bandung, rumah udah beres lagi.”
“Bagus deh kalo gitu,” kata Donni.
“Bagus apanya?”
“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Bandung.”
“Elo mau juga?”
“Mau apa?”
“Liburan ke Bandung.”
“Maksud elo?”
“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”
Donni tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zoy.”
Zoya cemberut.
“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”
“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”
“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”
“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zoya mendengus kesal dan meninggalkan Donni. Donni cuma mengawasi cewek manis itu menghilang di luar kelas.
***
Tante Melda mengawasi cara kerja Donni yang cekatan. Meski bukan seorang tukang cat profesional, Donni terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat yang menetes di lantai.
“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Melda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”
“Iya, Tante.” Donni menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok. Sebenarnya Donni agak gugup ditunggui Tante Melda. Di rumah ini ada dua orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Melda lebih sering mengawasi dan menunggui Donni bekerja. Pasti karena Tante Melda merasa paling dekat dengan Donni.
“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Donni.
“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Don?”
“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”
“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja. Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan sekolah kamu?”
“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zoya sama Bombom kapan pulangnya?”
“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”
Donni mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zoya bahwa saya jadi kuli di sini.”
“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan, karena hasil pekerjaanmu emang baik.”
“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya….”
“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”
“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Donni menghentikan gerakan kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zoya saya kerja di sini. Kalo aja Zoya nggak pergi liburan ke Bandung, belum tentu saya sanggup meminta pekerjaan di rumah ini.”.
Tante Melda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran Donni. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok kerjaan Pak Rudi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan. Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng mereka. Oke?”
“Oke, Tante!” Donni merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.
Donni meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya. Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Cintya bukan lagi impian kosong semata.
Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah hadiah paling pas buat Cintya di hari Valentine. Hadiah yang harus ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.
Lagi-lagi Donni tersenyum.
***
Sebuah keributan terdengar dari luar.
“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”
“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Bom emang nggak mungkin bakal tahan terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Melda.
Suara yang satunya lagi siapa?
“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Bombom.”
Zoya?
“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Bandung. Bombom biar di rumah aja.”
“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Bandung! Tanggung!”
Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zoya..
Zoya! Oh my God, itu memang Zoya!
“Mau ke mana, Sayang?”
“Nengokin calon kamar baru gue!”
“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”
“Makan aja sama Bombom! Dasar anak mami!”
Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zoya sengaja menendangnya.
“Ya Allah!! Don???!!! Ngapain elo di kamar gue?”
Donni tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.
“Gue kerja di rumah elo, Zet.”
“Yaaah elo ini! Surprais banget, Don. Tapi kenapa juga elo nggak bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini, ngapain juga gue capek-capek ke Bnadung!” Zoya menatap Donni dengan takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Don. Kita bisa ngobrol juga.”
“Gue… gue malu, Zoy. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”
“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang lain.”
“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Donni. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”
“Tapi tunggu dulu, Don! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo dosen, nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak gini?” Zoya menatap Donni tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo cuman mau nyari sensasi, atau …?”
“Gue kepepet, Zoy.”
“Punya utang maksud elo?”
“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”
Zoya makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”
“Iya,” jawab Donni datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk…”
“Pacar elo? Elo punya pacar, Don?”
“Gue mau nembak, Zoy. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”
“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Don? Siapa perempuan malang itu?” Zoya berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.
“Cintya.”
“Hah?! Cintya?”.
“Iya. Emang kenapa?”
“Anak kelas 11 B itu, kan?”
Donni mengangguk pasrah.
“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”
“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Donni apa adanya. Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zoya. Donni berharap, Zoya bisa memberinya masukan yang berguna.
“Aduh, romantisnya!” jerit Zoya dalam bisikan. Zoya berharap, Donni tidak mendengarnya.
“Menurut elo gimana, Zoy? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”
“Terserah elo aja!” Zoya keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.
Donni terlongong.
Tapi tiga detik kemudian Zoya kembali masuk ke kamar itu.
“Elo ini tolol atau gimana sih, Don? Elo tau enggak sih, Cintya itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”
Donni tersentak melihat betapa marahnya Zoya.
“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk…!!!”
Memucat wajah Donni. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zoya sudah berlari meninggalkannya.
Donni tak tahu, di kamar yang lain Zoya tengah menangis tersedu-sedu menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zoya tengah membayangkan betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha yang begitu gigih dari Donni.
Donni memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zoya begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya..